Vientiane dalam 2 Hari: Panduan Singkat Ibu Kota Laos

Dua hari cukup untuk melihat bagian utama Vientiane kalau kamu menata rutenya berdasarkan jarak, bukan berdasarkan daftar tempat terkenal. Kota ini datar dan sebagian besar objek wisatanya berkerumun di area yang bisa dijangkau jalan kaki atau dengan tuk-tuk sekali jalan.

Kapan Waktu Terbaik Mengunjungi Vientiane

Musim hujan Laos berlangsung sekitar Mei sampai Oktober. Hujan biasanya turun deras tapi tidak sepanjang hari, dan justru membuat suhu lebih nyaman dibanding musim kemarau yang bisa menyentuh 35 derajat Celsius pada Maret dan April.

Kalau ingin cuaca paling bersahabat, datanglah antara November dan Februari. Pagi hari di bulan-bulan itu terasa sejuk sampai kamu perlu jaket tipis saat naik sepeda. Kekurangannya, harga kamar naik dan beberapa penginapan penuh pada akhir pekan.

Bawa uang tunai dalam kip dan baht Thailand. Banyak kafe dan toko kecil di Vientiane menerima baht, tapi kursnya sering kurang menguntungkan. ATM tersedia di pusat kota, hanya saja biaya penarikan berkisar puluhan ribu kip per transaksi, jadi ambil sekaligus dalam jumlah cukup.

Hari Pertama: Menyusuri Pusat Kota dengan Jalan Kaki

Pagi: Patuxai dan Sekitarnya

Mulai dari Patuxai, monumen berbentuk gerbang besar di ujung Avenue Lane Xang. Bentuknya sering dibandingkan dengan Arc de Triomphe, tapi ornamennya jelas khas Laos, ada motif kinnari dan stupa kecil di bagian atas. Naik ke lantai teratas untuk melihat lurus sepanjang avenue sampai ke Pha That Luang di kejauhan. Tiket masuknya murah, dan tangga menuju puncak cukup sempit sehingga sebaiknya tidak membawa tas besar.

Di seberang jalan ada Patuxay Park dengan air mancur dan bangku-bangku teduh. Tempat ini enak untuk sarapan ringan sambil mengamati warga lokal berolahraga pagi.

Siang: That Dam dan Kafe di Sekitar Setthathirath

Dari Patuxai, jalan kaki ke arah tenggara menuju That Dam, stupa hitam yang berada di tengah putaran jalan permukiman. Menurut cerita setempat, stupa ini dulu dilapisi emas yang dijarah pasukan Siam. Sekarang permukaannya berwarna gelap karena lumut, dan justru itu yang membuatnya menarik difoto.

Setelah itu, jalan santai ke Jalan Setthathirath. Di kawasan ini banyak kafe dan restoran yang menyajikan kopi Laos serta makanan Barat. Kalau ingin makan siang lokal, cari warung yang menjual khao piak sen, mie beras dengan kuah ayam yang cocok untuk cuaca panas. Beberapa hidangan khas lain bisa kamu temukan di daftar makanan khas Laos, dan sebagian besar tersedia di Vientiane dengan harga lebih murah daripada di Luang Prabang.

Sore: Pha That Luang dan Patung Patuxai dari Kejauhan

Pha That Luang adalah stupa paling penting di Laos, dilapisi emas dan dikelilingi tembok serta taman. Waktu terbaik mengunjunginya adalah sekitar pukul empat sore, saat matahari mulai turun dan warna emasnya tidak terlalu menyilaukan. Perhatikan aturan berpakaian: tutup bahu dan lutut, lalu lepas sepatu sebelum masuk ke area dalam.

Dari Pha That Luang, naik tuk-tuk kembali ke pusat kota untuk makan malam. Kalau masih ada tenaga, susuri Night Market di Jalan Chao Anouvong yang mulai ramai setelah matahari terbenam.

Hari Kedua: Kuil Tua, Buddha Park, dan Sunset di Mekong

Pagi: Wat Si Saket dan Haw Phra Kaew

Wat Si Saket berdiri tepat di seberang Haw Phra Kaew, jadi dua tempat ini bisa diselesaikan dalam satu kunjungan. Wat Si Saket dibangun dengan galeri yang mengelilingi halaman, dan di dindingnya tersusun ratusan patung Buddha kecil. Beberapa patung terbuat dari perunggu, sebagian lagi dari kayu, dengan ukuran yang berbeda-beda.

Haw Phra Kaew yang berada di sebelahnya kini berfungsi sebagai museum. Bangunannya bukan lagi kuil aktif, sehingga kamu bisa masuk tanpa melepas sepatu di dalam ruangan utama. Pameran di dalamnya berisi artefak Buddha dan benda-benda upacara dari berbagai periode.

Siang: Menuju Buddha Park

Buddha Park atau Xieng Khuan terletak sekitar 25 kilometer dari pusat kota, di tepi sungai Mekong. Di sini berdiri puluhan patung beton berukuran besar, termasuk patung Buddha tidur raksasa dan struktur berbentuk labu yang bisa kamu masuki lewat tangga sempit. Tempat ini dibangun oleh seorang biksu sekaligus seniman, dan gaya patungnya bercampur antara ikonografi Buddha dan Hindu.

Cara ke sana:

  • Tuk-tuk dari pusat kota dengan harga yang disepakati dulu sebelum berangkat.
  • Sewa sepeda motor atau skuter listrik kalau kamu nyaman menyetir di jalan Laos.
  • Bus lokal nomor 14 dari Terminal Talat Sao, paling murah tapi lebih lambat.

Bawa air minum dan topi karena area parkir ke patung cukup terbuka. Toilet dan warung kecil tersedia di dekat pintu masuk.

Sore: Jalan Kaki di Tepi Mekong

Kembali ke pusat kota menjelang sore, lalu susuri promenade di sepanjang Mekong. Di sisi Laos, sungai ini lebar dan tenang, dengan Thailand terlihat di seberang. Banyak warga lokal jogging atau duduk di bangku beton saat matahari mulai turun.

Untuk makan malam, pilih restoran di tepi sungai yang menyajikan ikan panggang dan tam mak hoong. Harga di kawasan ini lebih tinggi daripada di gang belakang, tapi pemandangannya sepadan. Setelah makan, kamu bisa mampir ke pasar malam untuk membeli kain tenun atau kopi sebagai oleh-oleh.

Transportasi Keliling Vientiane

Pusat kota Vientiane cukup kecil untuk dijelajahi dengan kaki. Jarak dari Patuxai ke promenade Mekong sekitar dua kilometer dan bisa ditempuh dalam setengah jam santai.

Untuk jarak yang lebih jauh, tuk-tuk jadi pilihan utama. Sepakati harga sebelum naik, karena sebagian besar tidak memakai argo. Sepeda juga bisa disewa dari guesthouse dengan tarif harian, dan ini cara paling menyenangkan menyusuri jalan-jalan kecil di sekitar Setthathirath. Kalau berencana melanjutkan perjalanan ke kota lain, baca dulu panduan transportasi di Laos supaya tidak salah pilih bus malam.

Beberapa aplikasi transportasi berbasis ponsel mulai beroperasi di Vientiane, tapi cakupannya belum seluas di Bangkok atau Hanoi. Siapkan opsi tuk-tuk sebagai cadangan.

Di Mana Sebaiknya Menginap

Wisatawan biasanya memilih penginapan di sekitar Jalan Setthathirath atau dekat promenade Mekong. Kawasan Setthathirath lebih tenang, dekat kafe, dan masih dalam jangkauan jalan kaki ke kuil utama. Kawasan Mekong lebih ramai, cocok kalau kamu ingin langsung keluar kamar dan menemukan restoran.

Untuk perjalanan pertama ke Laos, baca juga tips pertama kali ke Laos soal kebiasaan lokal, aturan di kuil, dan hal-hal kecil yang sering terlewat.

Perkiraan Biaya Harian

Vientiane lebih murah daripada Luang Prabang untuk akomodasi, tapi harga makan di restoran tepi sungai bisa setara. Anggaran sederhana per hari biasanya mencakup kamar guesthouse ber-AC, tiga kali makan di warung lokal, sewa sepeda, dan tiket masuk beberapa objek wisata. Kalau kamu menambah tur ke Buddha Park dengan tuk-tuk pulang-pergi, siapkan tambahan biaya transportasi.

Ringkasan

Hari pertama di Vientiane cocok untuk area pusat kota: Patuxai, That Dam, dan Pha That Luang. Hari kedua untuk kuil tua di sekitar Setthathirath, Buddha Park di luar kota, lalu ditutup dengan sunset di tepi Mekong. Dua hari tidak membuatmu mengenal seluruh Vientiane, tapi cukup untuk melihat lapisan sejarah dan kehidupan sehari-hari kota ini tanpa terburu-buru.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah Vientiane bisa dijelajahi tanpa sewa kendaraan?

Bisa. Pusat kotanya datar dan jarak antar objek wisata utama masih masuk akal untuk jalan kaki. Untuk Buddha Park, kamu tetap butuh tuk-tuk, bus lokal, atau kendaraan sewaan karena lokasinya di luar kota.

Berapa lama idealnya tinggal di Vientiane?

Dua hari cukup untuk objek wisata utama. Kalau ingin menambah museum, pasar, atau perjalanan santai ke desa kerajinan di sekitar kota, siapkan tiga hari.

Apakah perlu membawa kip atau baht Thailand?

Bawa keduanya secukupnya. Kip dipakai di hampir semua tempat, sementara baht diterima di sebagian toko dan penginapan dengan kurs yang bisa kurang menguntungkan. Tukar uang di bank atau money changer resmi, bukan di jalan.